Rabu, 16 April 2014

Kemana Sarjana Indonesia????



Indonesia dengan berbagai kekayaan yang di milikinya sebenarnya mampu berdiri tegak sendiri. Hubungan dengan negara lain seharusnya hanyalah sebatas pengembangan dan peningkatan kualitas hidup Indonesia bukan malah menjadi medan eksploitasi negara lain untuk mencari keuntungan. Namun kita masih ciut untuk mempercayai seutuhnya hal ini. Termasuk para lulusan terbaik yang menyandang gelar sarjana.
Untuk tahun ini saja BPS (Badan Pusat Statistik) mencatat jumlah pengangguran sarjana atau lulusan universitas pada Februari 2013 mencapai 360 ribu orang, atau 5,04% dari total pengangguran yang mencapai 7,2 juta orang. Ini menjadi pertanyaan, kemana hasil dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang salah satunya pengabdian masyarakat. Jika setiap Mahasisiwa yang lulus sadar benar arti pengabdian masyarakat mungkin tingkat pengangguran Indonesia akan menurun drastis.
Sekarang kita lihat dari sektor pendidikan Indonesia. Jumlah lulusan Sarjana Pendidikan Indonesia sangat banyak. Namun ketimpangan jumlah guru yang mengajar di daerah kota dengan daerah terpencil sangatlah terlihat. Hampir semua lulusan universitas ini mendambakan menjadi PNS di kota dengan gaji yang tinggi. Mereka kurang sadar bahwa ilmu yang mereka dapat haruslah lebih di utamakan untuk pengabdian kepada masyarakat. Ini menjadi salah satu hal yang yang difikirkan bersama, baik oleh pemerintah maupun masyarakat luas. Kita masih ingat bahwa dulu Malaysia yang belajar dari kita, banyak guru-guru yang dikirim untuk menjadi pengajar di sana. Namun sekarang, pendidikan Malaysia lebih maju dari Indonesia.
Begitupun dengan sektor pertanian. Indonesia punya banyak lulusan sarjana pertanian.Kalau saja ilmu mereka di abdikan dalam masyarakat, pertanian Indonesia pastilah meningkat. Para petani tidak bingung ketika dibanjiri hasil tani impor dari negara-negara lain karena kualitas hasil tani kita baik. Apalagi pertanian adalah salah satu sumber daya alam paling berpotensi di Indonesia. Kalau ini disadari dengan sepenuhnya kita harus yakin Indonesia tak perlu lagi mengimpor hasil tani dari negara lain bahkan kita yang mengekspor.
Maka dari itu pemerintah perlu menggairahkan kembali semangat pengabdian masyarakat oleh orang-orang terdidik. Indonesia punya banyak lulusan pendidikan dan ini aman untuk peningkatan kualitas pendidikan setidaknya untuk pemerataan jumlah guru di seluruh Indonesia.
Perlu digiatkan kembali pegabdian masyarakat pada mahasiswa sejak dini sehingga ketika menjadi wisudawan mereka sudah berfikir untuk mengaplikasikan ilmunya untuk masyarakat. Mahasiswa akan dengan sendirinya menyadari perlunya membangun negeri. Kesadaran mahasiswa ini harus ditunjang oleh Pemerintah. Salah satunya adalah apresiasi terhadap para pengabdi yang dengan rela mengabdikan dirinya pada daerah-daerah terpencil. Pemerintah harus benar-benar mengapresiasi hal ini karena seperti kita tahu orang-orang pintar di Indonesia kurang diapresiasi yang akhirnya mereka pergi ke negara lain yang lebih mengapresiasi ilmunya.
Selain dengan penghargaan terhadap para pengabdi masyarakat tadi, pemerintah diharapkan dapat memudahkan akses pendidikan bagi semua alangan masyarakat. Karena seperti kita tahu banyak anak-anak yang tidak melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi hanya karena alasan biaya. Namun, pemerintah diharap agar ketika memberikan apresiasi 
Semangat pengabdian masyarakat ini harus disadari dan diaplikasikan terus menerus. Agar semua sektor di Indonesia bisa lebih maju dan berkualitas. Sehingga ketika ada kekurangan dan masalah krusial yang terjadi di Indonesia, pertanyaan “Kemana Sajakah Sarjana Indonesia?”tidak ada lagi. 

_Isma Rania 10/12/2013 @14.37 di Ruang  Cahaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar