Kita sudah melewati ribuan hari hingga puluhan tahun. Namun secara sadar mungkin kita menjalani hidup ini baru satu atau dua tahun.
Saya sangat senang ketika SMA dulu melihat orang-orang yang sadar akan pentingnya tanggung jawab dalam kehidupannya. Mereka sadar kepada Tuhannya, sadar pada keluarganya, sadar pada sahabatnya, dan sadar pada sekitarnya.
Waktu itu saya coba ikut-ikutan. Karena basic agama saya sangatlah minim, maka saya mengambil contoh dari kakak-kakak senior. Mulai dari nanya-nanya tentang agama sampai berusaha tahu aktivitas sehari-hari. Waktu itu, saya benar-benar menyontek apa saja yang dijalaninya seharian. Ternyata cukup sulit, karena yang saya jadikan tempat mencontek adalah orang yang “Subhanallah” berusaha mengisi hari-harinya dengan sebaik-baiknya. Akhirnya waktu itu saya belajar mendaftar apa saja yang besok akan dilakukan, dari hal kecil sampai hal besar. Namun, itu juga belum menjadikan saya konsisten. Padahal jujur, saya yakin sekali kalau saya konsisten mengisi hidup saya dengan hal-hal yang berguna maka saya akan SUKSES. Satu perkara yang tidak boleh diremehkan dan sangat saya percaya sebagai pamungkasnya kunci sukses adalah “ADAB KITA TERHADAP ALLAH”.
Setelah menemukan kunci suksesnya hidup dunia dan akhirat, saya masih saja belum bisa konsisten. Akhirnya, satu hari saya tanyakan pada sang teladan saya tadi. Katanya “Kita sadarkan diri kita bahwa kita adalah Makhluk Sempurnanya Allah”. Sebagai Makhluk sempurna kesuksesan adalah hal mutlak yang wajib terjadi. Sempurna fisiknya, sempurna rizkinya, sempurna perangainya atau adabnya, dan pastinya harus sempurna syukurnya. Jadi, waktu itu dan sampai sekarang mengambil kesimpulan bahwa ternyata ke-TIDAK SUKSESAN diri kita adalah ketidaksadaran diri kita akan kesempurnaan yang memang sudah dibekali oleh Allah. Sebagai landasan kuatnya kesempurnaan Allah berfirman pada Qur’an surat At Tiin:4
“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”
Menurut Jaluddin Rummi “ Semua ada didalam dirimu. Mintalah melalui dirimu sendiri”
Untuk meraih dan menikmati suksesnya hidup yang total tanpa hambatan, Anda perlu menyadari bahwa hidup Anda dapat dianalogikan seperti seorang seorang pelukis yang dihadiahi sebuah kanvas maha besarlengkap dengan semua peralatan gambaryang dibutuhkan dalam jumlah tak terbatas. Anda bebas melukis apa saja sesuka hati . Atau, seperti seorang juru masak yang dihadiahi dapur yang begitu lengkap dengan semua resep, peralatan, dan bahan-bahan pembuat makanan yang di inginkan tanpa ada kekurangan. Anda bebas bisa memasak segala jenis makanan sekehendak hati Anda.
Dalam hal in, Saya merekomendasikan buku Quantum Ikhlas karangan Erbe Sentanu.
Semoga kita semakin sadar akan kesemprnaan diri kita. Dan melaksanakan tugas hakiki hidup kita.
_Isma Rania (belajar untuk bermanfa’at) 28/10/13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar